Badan Geologi ESDM Petakan Saline Aquifer Penyimpan CO2

Badan Geologi ESDM Petakan Saline Aquifer Penyimpan CO2

Badan Geologi ESDM terus mengembangkan riset penyimpanan karbon bawah tanah. Salah satu fokus utamanya adalah pemetaan aquifer salin atau saline aquifer. Formasi geologi tersebut berpotensi menjadi tempat penyimpanan karbon dioksida (CO₂) dalam jangka panjang.

Teknologi ini berkaitan dengan konsep Carbon Capture and Storage (CCS). Melalui teknologi tersebut, karbon dioksida dari kegiatan industri di tangkap sebelum di lepaskan ke atmosfer. Selanjutnya, gas tersebut di kompresi dan di injeksikan ke dalam formasi batuan bawah permukaan.

Aquifer salin merupakan lapisan batuan berpori yang mengandung air dengan kadar garam tinggi. Kondisi tersebut membuatnya tidak cocok untuk kebutuhan air minum maupun pertanian. Namun, karakteristik geologinya berpotensi mendukung penyimpanan karbon apabila memenuhi persyaratan teknis.

Oleh karena itu, pemetaan menjadi tahapan penting sebelum menentukan lokasi penyimpanan. Badan Geologi perlu mengidentifikasi kedalaman, ketebalan, porositas, dan permeabilitas lapisan batuan. Selain itu, keberadaan lapisan penutup kedap juga harus di periksa untuk mencegah kebocoran karbon.

Badan Geologi ESDM melalui penelitian tersebut, pemerintah berupaya memperluas pilihan lokasi penyimpanan karbon nasional. Dengan demikian, pengembangan teknologi CCS tidak hanya bergantung pada lapangan minyak dan gas. Sebaliknya, formasi aquifer salin dapat menjadi alternatif penting dalam mendukung pengurangan emisi industri.

Badan Geologi ESDM Indonesia Memiliki Potensi Penyimpanan Karbon 6.435 Gigaton Di 41 Area

Badan Geologi ESDM Indonesia Memiliki Potensi Penyimpanan Karbon 6.435 Gigaton Di 41 Area berdasarkan hasil pemetaan dan skrining regional hingga 2025, Indonesia memiliki potensi penyimpanan karbon yang sangat besar. Lalu Badan Geologi mencatat kapasitas teoretis mencapai sekitar 6.435 gigaton CO₂. Potensi tersebut tersebar di 41 area akuifer salin yang berada di sejumlah pulau besar.

Kalimantan menjadi wilayah dengan potensi penyimpanan karbon terbesar. Kawasan tersebut memiliki kapasitas teoretis sekitar 4.824 gigaton CO₂ yang tersebar di 12 area. Beberapa wilayah yang masuk pemetaan meliputi Bengkayang, Entikong, Tabang, dan Puruk Cahu.

Sementara itu, Pulau Jawa memiliki potensi sekitar 1.225 gigaton CO₂ di 15 area. Lokasinya mencakup Sragen, Banyumas, Kediri, hingga Bogor. Adapun Pulau Sumatera menyimpan potensi sekitar 386 gigaton CO₂ di 14 area. Beberapa wilayahnya meliputi Padang Sidempuan, Muara Enim, dan Baturaja.

Kepala Badan Geologi, Lana Saria, menjelaskan bahwa pemetaan tersebut berfokus pada cekungan sedimen. Terutama, kawasan yang belum memiliki kegiatan produksi minyak dan gas bumi atau greenfield. Dengan demikian, penelitian dapat membuka peluang penyimpanan karbon di luar reservoir migas.

Meskipun demikian, angka tersebut masih berupa estimasi kapasitas teoretis berdasarkan penyaringan regional. Oleh karena itu, penelitian lanjutan tetap di perlukan sebelum lokasi di nyatakan layak untuk penyimpanan komersial.

Survei Geologi Di Lanjutkan Untuk Mendukung Target Net Zero Emission 2050

Survei Geologi Di Lanjutkan Untuk Mendukung Target Net Zero Emission 2050 Badan Geologi berencana memperluas pemetaan wilayah potensial penyimpanan karbon secara bertahap. Pada 2026, kegiatan kajian lapangan di fokuskan pada wilayah Bali hingga Nusa Tenggara. Selanjutnya, survei akan di perluas menuju Sulawesi hingga Papua selama periode 2027–2028.

Perluasan penelitian tersebut bertujuan memperkaya basis data geologi bawah permukaan Indonesia. Sebab, keberhasilan teknologi CCS membutuhkan informasi mengenai karakteristik batuan secara terperinci. Selain itu, kondisi struktur geologi harus mendukung penyimpanan karbon secara aman dalam jangka panjang.

Dalam pelaksanaannya, tim geologi melakukan pengumpulan data melalui survei lapangan dan analisis batuan. Penelitian mencakup pengukuran stratigrafi, identifikasi struktur geologi, serta pengambilan sampel batuan. Selanjutnya, hasil pengujian di gunakan untuk memahami kemampuan formasi batuan menyimpan dan menyekat CO₂.

Kepala Badan Geologi Lana Saria menyatakan bahwa pengembangan CCS sejalan dengan strategi rendah karbon nasional. Komitmen tersebut tercantum dalam Long-Term Strategy for Low Carbon and Climate Resilience 2050 (LTS-LCCR 2050). Dengan demikian, penyediaan lokasi penyimpanan karbon menjadi bagian penting strategi mitigasi perubahan iklim.

Namun, penerapan teknologi ini tetap membutuhkan kajian keselamatan dan pengawasan lingkungan. Pemerintah perlu memastikan karbon yang di injeksi tidak mengalami kebocoran menuju permukaan. Selain itu, pemantauan jangka panjang di perlukan untuk menjaga stabilitas penyimpanan.

Melalui pengembangan riset tersebut, Indonesia berupaya memperkuat kesiapan infrastruktur penurunan emisi. Pada akhirnya, pemanfaatan akuifer salin di harapkan mendukung transisi menuju industri rendah karbon. Dengan begitu, target Net Zero Emission 2050 dapat di dukung melalui pengembangan teknologi penyimpanan karbon yang berkelanjutan Badan Geologi ESDM.